Saktinya Angka '24'

Pagunpos.Com. Saktinya Angka '24'. Pasti Anda merasa aneh kenapa kali ini saya menuliskan artikel tentang saktinya angka '24'. Kenapa angka '24' itu sakti? Dan apa maksud dari angka '24' itu? Bagi setiap tenaga pendidik dan kependidikan pasti mengetahui secara pasti tentang angka '24'. Angka '24' merupakan beban mengajar yang harus dipenuhi oleh setiap manusia di lembaga pendidikan. Saking saktinya angka '24' ini menjadi momok tersendiri bagi hampir seluruh guru. Apalagi semakin besar golongan seorang tenaga pedidikan semakin besar pula beban dan tanggungjawabnya. Okey, tidak perlu berlama-lama lagi, saya akan membongkar saktinya angka '24'.

Ilustrasi Asnat Bell Mengajar

Angka 24 itu sakti karena menjadi tugas dan beban mengajar yang dibebankan kepada setiap guru di lembaga pendidikan. Jika seorang guru tidak memiliki beban mengajar '24' jam dalam seminggu maka, guru tersebut tidak akan mendapatkan tunjangan atau sertifikasi. Gunanya angka '24' ini sebagai prasyarat untuk mendapatkan tunjangan dan sertifikasi.

Kenapa angka '24' menjadi acuan dalam mendapatkan tunjangan atau sertifikasi? Karena hal ini menyangkut hak dan tanggungjawab seorang guru. Jika ia bekerja secara maksimal (dalam artian 24 jam minimal dan maksimal 40 jam) maka, ia pantas mendapatkan reward (hadiah) dengan pemberian tunjangan atau sertifikasi sebagai haknya dalam menjalankan tugas.

Namun, ada kerancuan yang saya temukan terhadap angka '24' ini. Angka '24' ini seakan-akan telah menjadi acuan bagi tiap lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Padahal, banyak guru yang bukan hanya mengajar '24' jam bahkan lebih di pelosok desa namun tidak pernah mendapatkan tunjangan dan sertifikasi. Seolah-olah sertifikasi ini hanya berlaku bagi sekolah di perkotaan saja. Sedangkan sekolah yang berada jauh di mata tidak mendapatkan perhatian lebih. Seandainya jika ada perhatian lebih mengenai sertifikasi kepada para guru di pedesaan, mungkin tunjangan yang mereka dapatkan seharusnya lebih banyak dari tunjangan yang didapatkan oleh guru-guru diperkotaan.

Bahkan di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih ada seorang guru wanita yang bahkan mengajar bukan hanya 24 jam perminggu, bahkan melebihi 24 jam perminggunya. Namun, tidak juga kunjung mendapatkan perhatian lebih oleh pemeritah. Bahkan mereka hanya digaji 50 ribu sebulan. Namanya adalah Asnat Bell. Ia adalah seorang guru yang mengajar di sebuah desa pedalaman Timor-NTT, tepatnya pada sebuah SD GMIT di salah satu kecamatan Amanuban. Beliau mengajar 7 jam perhari. Jika dikalikan dalam seminggu 7 x 7 = 49 jam perminggu dengan gaji perbulannya hanya Rp.50.000. Asnat Bell sudah mengabdi selama 7 tahun dan bekerja pool gaji nol.

Lantas, di manakah letak saktinya angka '24' itu? Pasti Anda sudah bisa menebak sendiri masih pantaskah angka itu dianggap sakti mandraguna yang kebanyakan ditakutkan oleh hampir sebagian guru. Berapa yang harus dibayarkan pemerintah kepada Asnat Bell jika ia telah mengajarkan lebih dari angka '24' jam. Jika dilihat dari sisi keadilan, beliau tentunya sudah dapat menikmati tunjangan insentif yang sekarang sudah dinikmati oleh guru-guru perkotaan yang terkadang masing kurang cukup atas tunjangan tersebut. Inilah mirisnya sistem kita di Indonesia ini. Hanya mampu melihat dari satu sisi dan menapikan sisi lainnya. Semoga pemerintah kedepannya lebih memperhatikan lagi mengenai nasib guru-guru honorer yang betul-betul berdedikasi tinggi terhadap kecerdasan anak bangsa di pedasaan.


0 Response to "Saktinya Angka '24'"

Post a Comment

Jadilah pembaca cerdas dengan memberikan komentar relevan dengan artikel. Terima kasih !