Mengapa Harus Dominan? Dewan Hakim MTQ Provinsi Kaltara Perlu Uji Kelayakan!

Oleh:
Muhammad Arbain
(Penulis ‘20’ Buku & Mantan Juara I MMQ Tingkat Provinsi Kaltim 2012-2013)


Muhammad Arbain- Mantan Juara I MMQ Provinsi Kaltim 2 Kali Berturut-Turut
         
Bumi Benuanta merupakan hamparan yang luas dengan eksotisme alam yang terbentang indah. Keindahannya menggambarkan kondisi masyarakat yang senantisa tawaduk dalam nuansa religius. Tahun 2016 ini merupakan langkah awal Kalimantan Utara menyelenggarakan MTQ Provinsi yang pertama kalinya. Kalimantan Utara digemparkan oleh lantunan ayat-ayat suci Alquran. Semua insan Kaltara memuji asma Tuhannya. Kalimantan Utara tempat berkumpulnya para alim ulama dan penghafal, pengkaji, dan pengamal Alquran. 

Dalam perhelatan MTQ Provinsi Kalimantan Utara Ke-I ini dilombakan beberapa cabang lomba yaitu: Tilawah Qur’an, Qira’ah Qur’an, Hifdzil Qur’an, Tafsir Qur’an, Fahmil Qur’an, Syarhil Qur’an, Khotil Qur’an, dan Musabaqah Makalah Al-Qur’an. Beberapa cabang lomba di atas merupakan bagian dari syiar Islam kepada seluruh masyarakat Kaltara. 

Setiap peserta dari masing-masing daerah yang ada di Kalimantan Utara yakni; Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT). Semuanya berbondong-bondong untuk mengikuti MTQ Provinsi Kalimantan Utara yang perdana dengan ‘Tuan Rumah” Ibu Kota Provinsi Kaltara “Bulungan”. Guna memperebutkan kejuaraan dan terciptanya insan peserta yang berkualitas dan dapat membawa nama baik daerah di tingkat Nasional maupun Internasional. 

Namun, dalam perhelatan MTQ Provinsi Kalimantan Utara tahun 2016 ini, apakah gerangan yang terjadi? ada sebuah kejanggalan dan ketidakadilan. Dominasi dari daerah ‘Tuan Rumah’ menyelimuti dan memberikan setitik noktah dalam sanubari masyarakat Kaltara. Setiap daerah yang ada di Kaltara hanya menduduki kursi dewan hakim sebanyak 6 (enam) orang. Tentunya bagi skala Kaltara ini berada dalam posisi yang tidak adil dan tidak wajar. Pasalnya, banyak bidang MTQ yang tidak terwakilkan oleh masing-masing daerah. Kekecewaan mulai bemunculan ketika posisi penting perheltan ini yang menyangkut kejuaraan telah ternodai oleh ambisi yang tidak sewajarnya. Setiap daerah pastinya menginginkan kejuaraan umum. Tentunya untuk meraih kejuaraan umum diperlukan kerja keras dan kejujuran. Dewan hakim merupakan kunci suksesnya penyelenggaran MTQ dengan ditemukannya juara-juara emas Kaltara. Dewan hakim disumpah sebagai posisi strategis yang memiliki hak priogratif dalam menciptakan generasi yang Qur’ani. Dewan hakim seharusnya memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya. Apa syarat yang menjadikan seseorang sebagai “Dewan Hakim”? Tentunya semua orang tahu, syarat pertama dan utama adalah: (1) Mantan Peserta dan Memiliki Sertifikat Kejuaraan, (2) Pernah Mengikuti Pelatihan Dewan Hakim yang bersertifikat, (3) dan Usulan dari masing-masing daerah. 

Namun, Mengapa harus dominan? Dewan Hakim Perlu Uji Kelayakan! Tentunya uji kelayakan diperlukan untuk dapat menemukan dewan hakim-dewan hakim yang benar-benar memiliki kompetensi di bidangnya. Bukan atas status kekerabatan, kekeluargaan, dan kelembagaan yang justru mencoreng nama baik daerah maupun agama. 

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

0 Response to "Mengapa Harus Dominan? Dewan Hakim MTQ Provinsi Kaltara Perlu Uji Kelayakan!"

Post a Comment

Jadilah pembaca cerdas dengan memberikan komentar relevan dengan artikel. Terima kasih !