Fidyah atau Qadha ? Hukum Berpuasa Saat Menyusui dan Hamil, Lengkap dengan Tips Berpuasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Beginilah Islam Mengatur Menyusui Saat Puasa - Bolehkah ibu hamil berpuasa? Bolehkan ibu menyusui berpuasa? Pertanyaan itulah yang kerap kali muncul menjelang bulan suci ramadhan terutama dari ibu hamil menyusuiIslam adalah agama yang sempurna yang memang pada dasarnya tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah, termasuk puasa dikala sedang memiliki bayi dan harus menyusuinya serta hamil.


Lantas harusnya ada puasa bagi ibu menyusui? Ada kelonggaran (rukhsah) yang diberikan kepada orang yang menyusui saat bulan ramadhan. Pun saat puasa produksi ASI tetap normal (tidak berubah dan berkurang kualitasnya karena tubuh melakukan mekanisme kompensasi yaitu dengan menggunakan cadangan zat gizi seperti lemak, energi, vitamin, protein dan mineral yang sudah di simpan di tubuh. Kemudian, ketika berbuka tubuh akan kembali mengganti cadangan zat-zat gizi tadi sehingga sang Ibu tidak kekurangan gizi dan tetap bisa menjalankan kesehatan dengan normal. Dalam kasus kurang gizi berat, barulah komposisi ASI itu berkurang karena tidak ada lagi cadangan zat gizi yang dapat memasok kebutuhan ASI.

Fidyah atau Qhodho? Beginilah Islam Mengatur Menyusui Saat Puasa dan Tips Berpuasa Ibu Hamil dan Menyusui Hukum Berpuasa Saat Menyusui  dan Hamil, Lengkap dengan Tips Berpuasa Ibu Hamil dan Menyusui
Hukum Berpuasa Saat Menyusui  dan Hamil, Lengkap dengan Tips Berpuasa Ibu Hamil dan Menyusui


Bagi Ibu yang masih menyusui eksklusif (yakni usia bayi masih kurang dari enam bulan) sangat dianjurkan untuk menunda berpuasa atau tidak berpuasa dulu.  Sebab, pada masa menyusui eksklusif ASI adalah satu-satunya asupan cairan dan gizi bagi bayi tersebut. Disamping itu, produksi ASI juga akan terus meningkat dengan komposisi lengkap saat bayi masih kurang dari 6 bulan.


Hukum Berpuasa Bagi Ibu Menyusui Dalam Islam

Dalam keadaan wanita menyusui, dan juga wanita hamil, terdapat kondisi:


1. Hanya Qadha Puasa Saja

Apabila ia tidak berpuasa karena kondisi fisik dirinya yang lemah serta tidak mampu berpuasa, sebagian besar ulama berpandangan bahwa ia berkewajiban mengqadha puasa tersebut di hari lain manakala ketika ia mampu. Dalam hal ini, ia tidak diwajibkan membayar fidyah. Pendapat ini menurut Madzab Hanafi. Diqiyaskan dengan orang sakit.

2. Hanya Fidyah Saja

Pendapat selanjutnya, berpendapat bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa qadhanya hanya fidyah saja. Pendapat ini dipakai di kalangan ulama seperti; Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Mereka mengqiyaskan kondisi wanita hamil dan menyusui dengan orang-orang yang lanjut usia, atau kalangan mereka yang tidak sanggup melaksanakan puasa.

Ulama ini berdasar pada firman Allah SWT, "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (QS al-Baqarah : 184).

Dalam Bidayatul Mujtahid (jilid 1 pada hal 63) disebutkan, dalam kondisi ibu hamil / orang menyusui lebih dekat qiyasnya kepada orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar Fidyah tanpa perlu mengqadha.

Fidyah pada dasarnya hanya berlaku pada orang dalam kondisi tidak ada harapan atau tidak mungkin untuk berpuasa, misalnya : orang tua yang tidak mampu berpuasa atau orang yang sakit menahun. Dalam hal ini ibu hamil dan menyusui diqiyaskan sehingga wanita yang tidak memungkinkan lagi untuk mengqadha karena melahirkan dan menyusui secara berturut-urut sampai beberapa tahun, ia bisa mengganti qadhanya dengan fidyah. Hal ini karena ada illat (alasan hukum) tidak ada kemampuan lagi untuk mengqadha semuanya. Jadi dapat disimpulkan selama masih mampu untuk mengqadha dan memungkinkan, maka kewajiban mengqadha itu tetap ada.


3. Fidyah dan Qadha Puasa

Sedangkan, wanita yang hamil ataupun menyusui dan masih mampu berpuasa, lalu ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap kesehatan anaknya, ia punya dua kewajiban mengqadha dan membayar fidyah. Demikian pendapat sebagian besar ulama seperti dikemukakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Adapun ulama hanafiah berpendapat cukup dengan mengqadha saja.

Para ulama Kontemporer, seperti : DR Yusuf Al-Qardhawi, DR Wahabah Zuhaili, Syaikh Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz  juga menyatakan bahwa wanita yang hamil atau menyusui berkewajiban untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan.

Sedangkan mazhab Maliki punya pendapat lain. Menurutnya, bagi wanita hamil cukup mengqadha saja. Sedangkan bagi wanita yang menyusui diwajibkan mengqadha serta membayar fidyah. Mereka berpendapat, kondisi wanita hamil dan menyusui berbeda. Jadi mereka juga dibedakan dari segi hukumnya.

Menurut mazhab Maliki, Wanita hamil lebih dekat diqiyaskan hukumnya kepada orang sakit sehingga hanya qadha saja. Sedangkan wanita menyusui diqiyaskan dalam dua kondisi, yaitu orang sakit & orang yang terbebani (tidak punya harapan) melakukan puasa. Apabila ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia wajib membayar qadha’ sekaligus juga fidyah.

Fidyah dapat diartikan dengan memberi makan satu orang fakir miskin untuk sehari yang ditinggalkan bisa berupa gandum, atau beras atau kurma atau apa saja berupa makanan pokok. Tentang besaran kadarnya, sebagian besar ulama berpandangan kadarnya adalah 1 mud atau 1 kg kurang, untuk satu hari tidak berpuasa. Sedangkan ulama hanafiah berpendapat setengah sha’ atau 2 mud (setengah dari ukuran zakat fitrah).Apabila dikonversi ke rupiah bisa mengikuti dua cara: disesuaikan dengan bahan makanan pokok atau harga makanan jadi.

Secara sederhana bisa disesuaikan dengan harga satu porsi makanan yang standar di lingkungan terdekat. Untuk Jakarta misalnya, misalnya, sekitar 15 ribu rupiah untuk satu menu standar. Berarti satu hari tidak berpuasa dapat menggantinya dengan membayar fidyah 15 ribu dalam bentuk makanan. Fidyah diberikan kepada orang fakir miskin.

Dan pembayarannya bisa diwakilkan. Tidak ada keharusan seseorang membayar fidyahnya kepada orang-orang yang berhak secara langsung. Sehingga, ia dapat mewakilkan kepada seseorang/lembaga untuk menyampaikan fidyahnya. Hal ini dikarenakan pembayaran fidyah adalah ibadah berkaitan dengan maaliyah (harta) bukan ibadah berkaitan dengan fardiyah (personal yang bersifat fisik).


Jadi, kesimpulannya, wanita yang hamil atau menyusui lalu tidak berpuasa pada bulan ramadhan berkewajiban untuk mengqadha. Selain mengqadha puasa, menurut Imam Syaf'i dan Ahmad bin Hanbal juga ditambah fidyah (Jadi Qadha & Fidyah). Berbeda jika tidak mampu mengqadha karena waktu dia hamil dan menyusui secara berturut-turut dan tidak sanggup mengqadha puasa maka cukup membayar fidyah saja.

Wallahu'alam.

Masih kurang jelas atau ragu? Silahkan simak penjelasan dibawah ini:


Baca juga: Cara Menghilangkan Stretchmark setelah melahirkan secara alami

Bagi para Ibu Menyusui  yang memutuskan untuk menjalankan puasa ramadhan, maka simak tips menyusui untuk ibu menyusui dan hamil saat puasa dibawah ini:

Tips Berpuasa Bagi Ibu Menyusui dan Hamil

1. Memperhatikan Menu Makanan Yang Bergizi

Menurut data dari bidanku.com, Ibu yang sedang pada tahap menyusui membutuhkan setidaknya tambahan sekitar 700 kalori/hari, 500 kalori tersebut diambil dari makanan ibu sedangkan sisanya diambil dari cadangan lemak si bunda. Meskipun saat ramadhan tetap harus menerapkan pola makan tiga kali sehari dengan menu gizi seimbang. Bedanya, jam makannya yang berubah yakni saat sahur, ketika berbuka puasa dan sesudah sholat tarawih (menjelang tidur). Pilih makanan yang mengandung gizi seimbang untuk menghasilkan sari makanan yang bagus untuk buah hati.


2. Perbanyak Konsumsi Cairan

Saat berbuka dan sahur konsumsi air putih disarankan sebanyak dua liter. Untuk yang lebih maksimal, bisa ditambah dengan jus buah, madu ataupun susu. Segelas susu setiap sahur bermanfaat untuk menekan ancaman anemia bagi ibu hamil ataupun menyusui. Saaat berbuka, disarankan pula meminum air hangan dengan tujuan merangsang ASI agar mudah keluar.


Baca: Gawat!!! Inilah Penyakit Yang Dialami Bayi


3. Istirahat yang cukup

Istirahat bisa dilakukan dengan tidur atau sekedar menenangkan pikiran. Jangan terlalu cemas karena justru akan menghalangi kerja hormon Oksitosin mengeluarkan ASI, akibatnya seolah-olah ASI ibu berkurang. Dan yang bisa menjadi penyemangat adalah menyusui juga bagian dari ibadah. Semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI semakin lancar.


Demikian hukum islam tentang Ibu Menyusui saat berpuasa dan tips berpuasa bagi ibu menyusui atau yang sedang hamil. Semoga bermanfaat dan tetap semangat dalam menjalankan ibadah puasanya. Semoga anak-anaknya dijadikan anak yang sholeh dan sholehah yang akan mengantarkan orang tuanya ke Surga, Aamiin. Apabila ada pertanyaan silahkan tulis dikolom komentar.

Baca juga: Bau Mulut Saat Puasa? Atasi dengan ini...

Sumber refrensi:
  • Islamqa.info
  • Zakat.or.id 

1 Response to "Fidyah atau Qadha ? Hukum Berpuasa Saat Menyusui dan Hamil, Lengkap dengan Tips Berpuasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui"

Jadilah pembaca cerdas dengan memberikan komentar relevan dengan artikel. Terima kasih !