Pojok Hijau Bekasi Yang Menginspirasi

Bekasi Kota Industri? Memang tak begitu sulit menemukan pabrik di Bekasi. Bahkan, sepanjang perjalanan selalu ada pabrik yang berdiri kokoh sana sini. Sampai pada akhirnya perjalanan saya disambut oleh tanaman pucuk merah ketika hendak masuk sebuah kawasan yang bertuliskan “Wilayah RW 05 Perumahan Telaga Murni”.
Gapura Perumahan Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Bersih. Nyaris tak ada sampah tergeletak di jalanan yang mulus membentang. Sesekali suara kicauan burung bersahutan menambah sejuk nuansa pagi Kota Bekasi pada Minggu (23/12). Dari ujung gang, terdengar suara gemuruh anak-anak bermain sepeda, sedangkan orang tuanya tampak sibuk menyiram dan merawat taman di depan rumah. 

“Ini beneran di Bekasi ya? Gue baru tau ada beginian,” tanya Yoga sambil mengurangi kecepatan motornya.

Teman saya yang rumahnya hanya berjarak sekitar 2 km dari Telaga Murni itu tampak tak percaya jika Bekasi punya wilayah perumahan yang asri nan hijau seperti ini. Barangkali pemandangan semacam ini belum pernah ia temukan sebelumnya meski tinggal di Bekasi sejak lahir.

Stop… stop! Saking asyiknya memandangi sudut-sudut hijau, kami hampir keblabasan mencari rumah Pak Sunyoto. 

“Duduk dulu, Mas. Warga udah ngumpul di bank sampah,” kata koordinator KBA Telaga Murni tersebut. 

Benar saja, sudah ada masyarakat yang berkumpul di depan bank sampah. Kompak sekali. Dengan baju yang seragam, mereka bagai pasukan perang melawan sampah. Mereka menamai dirinya dengan MAPELA TM 05 (Masyarakat Peduli Lingkungan Asri Telaga Murni RW 05). 
Antusias masyarakat saat menimbang dan mengumpulkan sampah (Dok. Mapela)

Kini saya duduk persis di depan bank sampah. Tak ada aroma aneh yang tercium. Pak Sunyoto mengungkapkan jika sampah atau rongsokan warga RW 05 dikumpulkan di bank sampah ini. Untuk mempermudah kegiatan itu, sudah disediakan motor gerobak sampah yang siap berkeliling rumah warga setiap dua mingguan. Sampah yang sudah terkumpul ditimbang kemudian dicatat oleh petugas.

“Kemarin masih penuh namun sekarang sudah habis dijual. Rata-rata sampah yang terkumpul per dua mingguan berkisar 15 kg sampah botol, 10 kg sampah gelas dan 30 kg sampah kardus,” ujarnya sambil menyodorkan pupuk organik cair SADATASU. 
Pak Sunyoto (kiri) dan Pak Martono Ketua RT 02 RW 05 Telaga Murni (Dok. Pribadi)

SADATASU merupakan akronim dari Sampah Dapur Tanaman Subur, sebuah pupuk organik cair yang dihasilkan oleh masyarakat RW 05 dari alat sederhana. Ketika ditanya tentang pemasaran, Pak Sunyoto menjelaskan bahwa sementara ini masih digunakan oleh kalangan masyarakat sekitar sendiri. Meski demikian, bukan mustahil jika pupuk organik cair tersebut akan dipasarkan secara luas.

“Ayo langsung berkeliling saja. Kalau ada tamu, warga dengan senang hati menyambut,” ajaknya antusias.

Berkeliling ke sebuah tempat baru selalu mempunyai cerita yang menarik untuk dibagikan. Pak Sunyoto banyak bercerita tentang perubahan Telaga Murni yang amat berbeda dengan enam tahun yang lalu. Dulu, siapa yang sudi melewati jalanan berlubang dan gersang di sini. Sekarang, justru banyak orang yang sering lewat sini meski kadang hanya sekedar ingin berswafoto. 

“Silahkan selfie, mumpung masih gratis,” canda Pak Sunyoto ketika saya membuka kamera.

MAPELA TM 05 (Masyarakat Peduli Lingkungan Asri Telaga Murni RW 05) ini bergerak sejak tahun 2015 dan tercatat di Kemenkumham tahun 2016. Perjalanan penuh pro kontra mewarnai kiprahnya untuk sampai pada tahap ini. Menyatukan visi masyarakat yang tak kurang dari 750 Keluarga tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Pojok Toga Mapela (Dok. Pribadi)

“Dari awal itu kita kalang kabut, seperti mencabut buah singkong. Berat banget. Tapi luar biasanya mereka punya keinginan dan semangat yang sama sehingga perlu perjuangan,” tutur pria kelahiran Nganjuk tersebut.

Kiprah masyarakat di Telaga Murni yang mulai concern masalah lingkungan ternyata dilirik oleh perusahaan swasta. Salah satunya adalah PT Yutaka Manufacturing Indonesia (Astra Group). RW 05 Telaga Murni bersaing diantara beberapa kandidat kampung lain untuk menjadi binaan dalam program CSR (Corporate social responsibility).

“Pada saat itu, PT Yutaka Manufacturing Indonesia hadir untuk survei terakhir sekitar pukul empat sore. Kami sampaikan jika sudah bergerak ke situ (lingkungan). Silahkan kalian invest melalui CSR di sini. Kalau tidak berhasil, kami siap ganti 10 kali lipat,” janji Pak Rohdian selaku Ketua RW 05 kepada PT Yutaka. 

Akhirnya terpilihlah Perumahan RW 05 Telaga Murni menjadi binaan PT Yutaka sejak 2015. MAPELA TM 05 pun semakin berkembang dan mendapatkan banyak bantuan khususnya dalam empat pilar Kampung Berseri Astra (KBA) yakni lingkungan, pendidikan, kesehatan dan kewirausahaan. Bantuan yang diberikan sifatnya lebih banyak pada pendampingan dan pelatihan, bukan uang. 

Pupuk Cair dari Sampah Dapur

Langkah kaki saya berhenti sejenak di Rumah Pak Darsimin. Ia memerkan alat untuk membuat pupuk cair SADATASU. “Ini sudah hampir 1 bulan. Kalau sudah penuh langsung dibuka krannya. Airnya buat pupuk,” katanya. 

Proses untuk menghasilkan pupuk cair memang butuh waktu yang tidak singkat. Baru sekitar dua minggu pupuk cair bisa turun ke bawah. 
Pak Darsimin menujukkan alat membuat Sadatasu (Dok. Pribadi)

“Tergantung isinya. Bisa kulit pisang, nangka, nasi atau apa saja bisa. Yang penting jangan kena air,” tambah Darsimin.

Pupuk Cair SADATASU rencananya akan diproduksi dalam skala besar. Sudah ada 15 tong yang tersedia untuk tempat pembuatan pupuk kompos. 

“Harapannya satu gang ada satu tong. Kalau sudah berhasil, nanti kita tambah lagi,” imbuh Pak Sunyoto. 

Dalam proses menumbuhkan kesadaran lingkungan, anak-anak juga dilibatkan sebagai bentuk regenerasi. Seperti spanduk kampanye lingkungan yang dilukis sendiri oleh anak-anak. RW 05 sudah meminimalisir penggunaan spanduk dari percetakan. Selain melukis spanduk, anak-anak di RW 05 juga melukis kaos dengan menggunakan cat. Hasil lukisan kaos tersebut, mereka lelang dengan harga termurah sekitar Rp 250.000,-.
Dari banner bekas berhasil dilukis secara manual (Dok. Pribadi)

Ketika berada di RW 05 Telaga Murni, saya melihat langsung partisipasi nyata masyarakat. Kecintaan terhadap lingkungan tak lagi sekedar kata-kata belaka. Masyarakatnya aktif mempercantik tiap halaman rumah dan bahkan membuat jalanan berwarna-warni. Ada yang sibuk menyapu, sebagian menyiram tanaman dan sebagian menanam tumbuhan. Kerja bakti barangkali sudah menjadi momen yang dinantikan setiap minggunya. 

“Tiap hari ada saja ibu-ibu beresin pot. Tukang bunga sering lewat sini karena banyak yang beli,” kata Pak Sunyoto.

Lagi-lagi pucuk merah tumbuh subur di Telaga Murni. Selain menambah kesejukan dan keindahan, alasan pemilihan pucuk merah sebagai tanaman wajib di RW 05 adalah tidak banyak ranting dan tidak menghasilkan sampah. 
Masyarakat di Telaga Murni yang sedang berkumpul (Dok. Pribadi)

“Karena tidak ada fasilitas pembuangan, akan jadi bumerang kalau tumbuhan menghasilkan sampah,” tutur Pak Rohdian.

Hal menarik lain yang saya temukan berikutnya adalah tempat sampah yang unik. Ternyata setiap RT memiliki model tempat sampah yang berbeda-beda. Bisa dari segi bentuk tempatnya atau dekorasinya. Pasalnya, masing-masing RT dituntut berpartisipasi karena tidak mungkin lingkungan asri tercipta tanpa peran aktif masyarakatnya sendiri. Sebagai stimulus, ketua RW setempat juga menggelar kompetisi kebersihan untuk masing-masing RT. 
Panci dan botol bekas bisa menjadi pot (Dok. Pribadi)

Berbekal kreatifitas, masyarakat di KBA Telaga Murni pun menjadikan barang bekas menjadi benda yang lebih berfungsi. Jangan kaget jika menemukan panci memasak menjadi menjadi pot, tutup kaleng menjadi rambu-rambu, jerigen jadi tempat sampah atau botol minum menjadi media tanam.
Aneka kreatifitas dari masyarakat di KBA Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Kemunculan Pakar Pupuk Cair

Diantara rumah-rumah di Telaga Murni, kami mampir di rumah yang rimbun dan hijau bertuliskan “Program Pengolahan Limbah Sampah dan Hasilnya”. Itulah rumah milik Pak Sunarno. Pria 49 tahun yang memiliki kecintaan terhadap pengelolaan sampah cair. Di sana berjajar botol-botol yang berisi berbagai larutan (mol) yang sudah jadi. 
Saat di rumah Pak Sunarno (Dok. pribadi)

“Bahannya dari air cucian beras tuang sebagai karbo, dicampur gula merah karbohidrat maka sudah jadi mol. Fermentasinya sekitar 2-3 minggu. Ampas bonggol pisang nantinya juga bisa jadi media tanam sehingga tidak usah nyari tanah merah,” jelas pria kelahiran Wonogiri itu.

Ilmu tentang membuat pupuk cair terinspirasi ketika training ke Jepang pada tahun 2005. Negeri Sakura memberikan passion baru baginya. Di sana, ia melihat jika sekali panen hasilnya berlipat-lipat meski cuma dipupuk saja tanpa obat-obatan. Oleh karenanya, ia berpacu untuk melakukan eksperimen di rumahnya secara otodidak di sela-sela kesibukan kerja.

“Pepaya itu bukan tumbuh dari biji, tapi dari cangkok-an,” katanya sambil menunjuk ke pohon pepaya setinggi satu meter.

Usut punya usut, masyarakat di Telaga Murni sebenarnya tak menyangka jika ada sosok yang sudah menekuni dunia pupuk cair. Kemunculan Pak Sunarno baru saja diketahui.
Pak Sunarno saat menjelaskan cara membuat pupuk cair (Dok. Pribadi)

“Awalnya kita tidak tahu kalau Pak Sunarno paham dan tahu tentang pupuk cair. Tau-tau ada perlombaan, Pak Sunarno nongol. Dari segala macam experimennya, dia apa aja bisa. Buah, bonggol pisang, air ikan, dan air cucian beras. Cuma dia pekerja jadi nggak bisa full time ngurus pupuk kompos,” cerita Pak Sunyoto.

“Saling mengisi saja daripada hire orang mahal. Kita kerjakan bareng-bareng sambil belajar,” balas Pak Sunarno yang siap berbagi ilmu dengan masyarakat RW 05.

Ke Posyandu Sambil Bawa Sampah

Di bidang kesehatan, ada pembina Posyandu Seroja IB dengan beragam pelayanan mulai penimbangan, penyuluhan, pemeriksaan kehamilan, imunisasi, pengobatan dasar dan KB. Bukan sekadar posyandu biasa karena ada  inovasi yang membedakan dengan posyandu lainnya. Posyandu Seroja IB binaan PT Yutaka ini menerapkan tabungan sampah balita, tabungan Ibu lansia dan Ibu hamil serta beasiswa balita sehat dan berprestasi. 
PAUD Seroja IB (Dok. Pribadi)

Jadi, pada saat ada kegiatan Posyandu, masyarakat bisa membawa sampah yang bernilai ekonomis. Atau bisa juga hasil kerajinan sampah yang telah dibuat dibawa ke posyandu. Uang hasil penjualan sampah nantinya ditabung untuk meringankan biaya persalinan (bagi ibu hamil) atau diambil setahun sekali. 

Bu Sri Wilastutik selaku kader Posyandu Seroja IB amatlah bersyukur mendapatkan ilmu-ilmu baru saat menjadi Kader Posyadu. “Dapat pengalaman luar biasa dari Astra, terus kita tularkan ke masyarakat. Sering dapat pelatihan lomba posyandu naik kelas dan mengajak posyandu lain kerjasama,” tutur perempuan yang pernah mewakili Posyandu Seroja IB ke Makassar dan Bali tersebut.
Bu Sri Wilastutik saat di Posyandu Seroja IB (Dok. Pribadi)

“Melalui CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia, mereka memberikan bantuan 600 Paket PMT (Pemberian Makanan Tambahan) setiap bulan,” tambahnya sambil menunjukkan foto-foto kegiatan. 

Atas inovasi dan peningkatan pelayanan yang bertahap, berbagai prestasi berhasil ditorehkan seperti Juara II Posyandu Terbaik Astra tahun 2017, Juara III Lomba Posyandu Tingkat Kabupaten dan Finalis Posyandu Naik Kelas 2018 di Bali. Deretan prestasi yang ada di posyandu tak hanya dalam bidang kesehatan, ada pula prestasi lain bidang lain sebagai bentuk semangat masyarakat dalam berkompetisi.

“Emak-emak di sini lomba apa saja diikuti,” jawab Pak Nyoto saat saya bertanya tentang asal muasal piala juara paduan suara.

Dari Sampah untuk Biaya Pendidikan

Disebelah Posyandu, ada Rumah Pintar Astra yang biasanya digunakan untuk ruang belajar PAUD setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis. Di sana juga banyak tersedia benda kreasi dari sampah seperti tempat tisu dari kobot jagung dan aneka bunga dari sampah.

“Biaya PAUD di sini relatif lebih rendah daripada PAUD lainnya karena berbasis tabungan sampah. Setidaknya 20-30% biaya bisa dicover dari tabungan sampah,” kata Rohdian. Selain itu, juga ada tabungan sampah untuk anak yatim dan dhufa berupa fasilitas pendidikan gratis. 

Di Kantor PAUD pula ditemukan berbagai sertifikat penghargaan yang berjajar rapi lengkap dengan nominal hadiahnya. “Setiap dapat juara di tempel, duitnya untuk program bukan untuk makan-makan,” sahut Pak Sunyoto.
Beberapa prestasi yang ditempel di kantor Rumah Pintar Astra (Dok. Pribadi)

Di RW 05 ini juga menerapkan aturan belajar malam wajib belajar saat melintasi zona masyaraat cerdas. Pada jam 18.00 – 20.00 WIB hari Senin sampai Jumat, anak-anak tak boleh keluar rumah.

“Hasilnya efektif dan kalau melanggar sanksinya diomelin,” kata Pak Sunyoto.

Geliat Usaha di KBA Telaga Murni

Dalam pilar kewirausahaan, KBA Telaga Murni memiliki usaha makanan kue kering bernama Dewi Cookies yang biasanya diproduksi saat mendekati lebaran atau bergantung pesanan. Melalui program “AKU BISA” dari Astra, bisnis Dewi Cookies juga dibantu dalam hal pemasaran. Bahkan sempat mendapatkan Juara 3 Apresiasi AKU BISA 2017 dari PT Astra Internasitional Tbk.
Proses produksi Dewi Cookies (Dok. Mapela)

Produk dari daur ulang sampah pun bisa menjadi sumber pundi-pundi rupiah bagi masyarakat di Telaga Murni. Ibu-ibu PKK lihai menyulap sampah plastik dan koran menjadi produk yang bernilai jual seperti tempat tisu, vas bunga, tas dan taplak meja. 

“Orang Indonesia itu agak sedikit aneh, harusnya konsentrasi lingkungan mereka justru nyari barang yang branded,” sahut Pak Rohdian.
Pak Rohdian (Dok. Pribadi)

Oleh karena itu, pemasaran masih menjadi kendala utama agar bisnis kerajinan sampah untuk melebarkan sayap. Butuh saling sinergi untuk membantu memperkenalkan usaha semacam ini ke masyarakat luas. 

Bu Afni (42), koordinator outlet kerajinan sampah, merasa terbantu dengan Astra yang memberikan pelatihan pembuatan kerajinan dan branding. Selain media sosial, juga pernah bergabung di bazar dan dititipkan ke tempat souvenir. Produk kerajinan ini bahkan sudah sampai ke Sulawesi.
Bu Afni dan kerajinan sampah masyarakat Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Pak Rohdian menegaskan bahwa program kewirausahaan harus dimaksimalkan. Pasalnya, mustahil sebuah komunitas bisa terus eksis tanpa kondisi finansial yang mencukupi.

”Komunitas apapun kalau tidak sukses finansial akan jalan ditempat atau mati suri. Oleh karena itu, masyarakat kita dorong untuk membeli sembako di MAPELA SHOP daripada ke minimarket. Kenapa tidak? Ada 750 Kepala Keluarga yang menjadi aset sekaligus market. Harga minimal sama tapi dapat SHU (Sisa Hasil Usaha) yang kita adopsi dari koperasi,” jelasnya.

Semangat Pedesaan di KBA Telaga Murni

Kehadiran PT Yutaka Manufacturing Indonesia (Astra Group) tak hanya membantu masyarakat untuk maju secara infrastruktur, tapi juga turut meningkatkan kekompakan masyarakat. Bahwa di tengah ribuan pabrik yang berdiri, masih ada kampung yang punya semangat bersama layaknya sebuah pedesaan. 

Awalnya memang banyak pihak yang meragukan langkah RW 05 dalam bidang lingkungan.

“Dulu masyarakat apatis. Ketika kami menyapu di jalan banyak yang meragukan paling bertahan dua atau tiga bulan. Tapi kami tetep konsisten. Awalnya hanya tiga orang, sekarang sudah luar biasa,” cerita Pak Rohdian dengan penuh semangat. 

“Cibiran kita jawab dengan prestasi,” imbuhnya.
Ada buah-buahan yang tumbuh subur di Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Dalam pembiayaan kegiatan, anggaran sebagian besar diperoleh dari swadaya masyarakat. Ketua RW 05 itu memiliki cara yang cerdik untuk memantik partisipasi masyarakat. Ia menyebutnya dengan investasi, bukan iuran. Investasi dan iuran itu berbeda. Jika iuran akan selesai setelah uang diserahkan, sedangkan investasi itu bersifat produktif. Tidak hilang begitu saja karena diinvestasikan, misalnya untuk pengadaan tong sampah pupuk cair, pembelian sembako dan membeli bibit tanaman. 

“Dengan melibatkan masyarakat akan timbul rasa memiliki. Uang saya ada disitu sehingga investasi berjalan dengan baik. Masyakat berfikir di situ ada usaha saya dan saya harus bergerak agar uang saya tidak terbuang sia-sia,” terang Pak Rohdian.
Masyarakat yang sedang berkeliling di Telaga Murni (Dok. Pribadi)

“Dulu PT Yutaka Manufacturing Indonesia memberikan kami tanaman pucuk merah sekitar 35 bibit, namun kini ada sekitar 800 tanaman pucuk merah karena masyarakat suka. Ibaratnya dikasih 10 tapi kita memberikan 50 hasilnya,” imbuhnya. 

Bantuan dari PT Yutaka ternyata tak membuat masyarakat berpangku tangan. Justru menjadi pemicu masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan. Umpan dari kail yang diberikan ternyata mendapatkan hasil yang besar.

“Kita dipacu terus untuk ikut berbagai kegiatan. Sebenarnya kita tidak pernah mau ikut lomba. Kami tidak mau bersaing. Tapi tatkala situasi menghendaki bersaing, kami pantang jadi pecundang,” tegas Pak Rohdian dengan penuh keyakinan. 

KBA Telaga Murni memang punya sederet prestasi dari empat pilar yang dicanangkan Kampung Berseri Astra. Komplit memang. Di bidang pendidikan baru saja menyabet Juara 1 Program SADATASU Kategori Rumah Pintar Tingkat Nasional 2018. Menjadi finalis Posyandu Astra untuk Indonesia Sehat 2018 pada pilar kesehatan. Pernah mendapatkan Juara 3 Apresiasi AKU BISA 2017 untuk pelaku usaha kecil binaan Astra. Dan selalu menjadi langganan Piala Adipura dalam bidang lingkungan.
Beragam prestasi di KBA Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Beberapa masyarakat pun acapkali diundang untuk mewakili KBA Telaga murni guna mengikuti perlombaan atau lomba antar KBA di beberapa daerah di Indonesia. Namun, ada pengalaman baru yang didapat masyarakat selain pulang membawa prestasi.

“Saat naik pesawat secara gratis, ada warga sini yang dikasih makan pramugari tapi takut nerima. Takut disuruh bayar katanya,” canda Pak Rohdian yang disambut gelak tawa masyarakat di depan bank sampah.

Cerita naik pesawat atau menginap di hotel pertama kali adalah serpihan kebahagiaan yang barangkali terasa sederhana tapi begitu bermakna bagi mereka. Secara terbuka, mereka mengaku sebagai masyarakat biasa dan pembelajar. Pembelajar dengan siapapun termasuk dari orang yang berkunjung ke KBA Telaga Murni. Keinginan dan semangat masyarakat untuk merubah lingkungan baginya adalah tujuan yang utama alih-alih mengharapkan prestasi. 

“Cita-cita kami sederhana: harus jadi teladan bagi siapapun. RT 1 teladan RT 2 dan seterusnya,” kata Pak Rohdian. 
Kekompakan yang senantiasa dipertahankan di KBA Telaga Murni (Dok. Pribadi)

Pada Kampung Berseri Astra Telaga Murni saya menemukan jika kehadiran Astra tak hanya membangun secara fisik seperti infrastruktur atau fasilitas belaka. Astra turut merubah pola pikir masyarakat dan mumupuk kekompakan serta gotong royong masyarakat dengan beragam bantuan dan apresiasi yang diberikan. 

Hidup di perumahan dengan masyarakat mayoritas berprofesi sebagai buruh pabrik bukan berarti menanggalkan kekeluargaan. Semangat kekelurgaan dalam upaya menjaga lingkungan ternyata terasa nyata. Sebuah fenomena langka di sebuah Kota Industri yang barangkali hanya ditemukan di KBA Telaga Murni. 

Terima Kasih ASTRA, teruslah menginspirasi kampung-kampung Indonesia lainnya.

0 Response to "Pojok Hijau Bekasi Yang Menginspirasi"

Posting Komentar

Jadilah pembaca cerdas dengan memberikan komentar relevan dengan artikel.
Klik centang "beri tahu saya" untuk mendapatkan notifikasi balasan.
Terima kasih!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel